Jurnal Besuki
Senin, 20 Mei 2013
Golkar Dihantui "Tsunami Politik"
Selasa, 01 Mei 2012 - 13:42 wib
Jakarta (jurnalbesuki.com) - Dukungan DPD I Partai Golkar kepada Aburizal Bakrie untuk menjadi calon presiden hanya sebatas klaim saja. Pasalnya tidak semua dukungan yang dikantongi DPD I atas dasar desakan dari DPD II.
 
"Banyak DPD II yang tak setuju cuma takut, tidak usah saya sebutkan ada yang dari DPD II Lombok, Sampang, Aceh. Banyak," ujar Ketua Forum Silaturahmi DPD II, Muntasir Hamid, dalam keterangan persnya di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Senin (30/4/2014).

Selain itu, Muntasir menilai, Partai Golkar di bawah kepemimpinan Ical banyak keputusan yang tidak mewakili kader-kader daerah. Pasalnya Ical hanya mempercayakan beberapa orang untuk mewakili suara-suara dan dukungan dari kader daerah.

"Coba bayangkan ditanya perkembangan Aceh masa harus ke Makassar dulu, ini terjadi pembonsaian tokoh lokal tingkat nasional. Mahyudin itu untuk Kalimantan, bisa dikroscek ke DPP," ungkapnya.

Lebih lanjut, dia menambahkan, apa yang diungkapkan oleh Ical bahwa dukungan DPD I sudah sepenuhnya mendukungnya itu tidak berdasar. Pasalnya selama ini Ical tak mau mendengar apa yang diutarakan oleh DPD II terkait pencapresan di Golkar.

Bahkan, Muntasir menilai Ical seakan-akan menganggap apa yang diungkapkannya harus diikuti oleh seluruh kader. Padahal suara Ical tidak bisa diartikan sebagai suara Golkar. "Suara Golkar itu suara DPD II mulai dari kecamatan sampai kota," jelasnya.

Muntasir mencontohkan, pada saat kepemimpinan Soeharto di Partai Golkar. DPP mengajak DPD II untuk mengambil keputusan untuk mengganti Soeharto dari kepemimpinannya di era reformasi. "Munaslub waktu Pak Harto turun juga kan tidak boleh begini begitu. Ingat ya air sedang mengalir jangan terjadi tsunami di Golkar," tegasnya. (inc/jb1)
 
< Sebelumnya   Berikutnya >