| Arum Sabil: Rendemen Tebu Minimal Harus 8 Persen |
| Minggu, 20 Mei 2012 - 14:42 wib | |
Jember (jurnalbesuki.com) - Jaminan Rendemen tebu 7,3 persen yang dipatok Pabrik gula semboro dinilai tidak cukup memberikan penyelesaian bagi para petani tebu yang selama ini cenderung rugi. Jika pabrik gula yang menjadi jujukan pengolahan lanjutan dari tebu menjadi gula berkomitment memberikan jaminan kepada petani, semestinya angka rendemen tebu harus dipatok minimal 8 persen. Nilai produksi yang masih tembus Rp 9 ribu itu, masih kalah jauh dengan harga produk gula impor yang saat ini beredar dipasar hanya dengan kisaran harga Rp 7.300 hingga Rp 7.500. Sedangkan produk gula pasir dalam negeri saat ini masih beredar dengan harga diatas Rp 10.000 hingga Rp 11.000 per kilogram. Harga itu muncul karena biaya produksi gula lokal masih diatas Rp 9.000. Perbedaan harga yang sangat tajam itu, akan memicu keterpurukan gula produksi alam negeri. Oleh karena itu, jika memang ingin memberikan jaminan bagi keberlangsungan produksi tebu, maka minimal rendemen tebu harus tembus diatas 8 persen. Arum yang sudah lama malang melintang didunia Tebu juga menyatakan perlunya sebuah formula ideal untuk bisa keluar dari problem petani tebu yang hingga saat ini masih belum tuntas selain ancaman kalah bersaing diharga. Salah satu cara yang harus ditempuh untuk mendorong daya saing dengan produk gula impor adalah dengan menekan biaya yang harus dikeluarkan petani. "Dana talangan yang kompromistik akan memberikan manfaat bagus. Karena dengan langkah itu, nilai produksi gula akan bisa ditekan,"terang Arum. Sementara kebijakan yang diberikan oleh PTPN XI, terkait ditiadakannya profit sharing, maka APTRI juga menerima penawaran dari tiga investor, dengan ketentuan dapat memberikan jaminan tentang harga gula di angka Rp. 8100 per kilogramnya. Selanjutnya, sistem pembagian hasil keuntungan seluruhnya diberikan kepada petani tebu rakyat, tanpa pembebanan biaya administrasi kepada petani. Selain itu Arum menambahkan, investor juga bakal memperoleh hak eksklusif sebesar 30% sampai 50% atas hasil produksi gula Petani Tebu Rakyat, yang dilelang setiap periode giling. Sebagaimana diberitakan, Administrator PG Semboro yang dinaungi PTP Nusantara XI, Widodo Kardijanto memeberikan jaminan rendemen tebu tahun mendatang akan lebih baik karena pabrik telah dilakukan berbagai perbaikan. PG semboro berani menjamin rendemen sebesar itu karena pabrik sudah dibenahi. "Kedua, dari sisi tanaman, kami sudah punya strategi untuk pola tebang muat angkut yang baik. Sekarang tinggal pasca panen dimaksimalkan," katanya. Tahun ini, PG Semboro menargetkan pasokan tebu mencapai 10 juta kuintal dengan produksi gula 73 ribu ton. Tahun lalu realisasi produksi gula hanya 45 ribu ton. Selain memberikan jaminan rendemen tujuh persen, PG Semboro juga menghilangkan profit sharing (pembagian keuntungan) antara pemberi dana talangan (investor) dengan petani. Tahun sebelumnya, selisih antara harga lelang gula dengan patokan harga dasar dibagi antara investor dan petani, dengan persentase proporsi 40:60. Saat ini, profit sharing tersebut dihapuskan. Artinya selisih berapapun akan diberikan ke petani. Namun, petani dikenakan biaya administrasi Rp 42 per kilogram gula. Widodo mengatakan, dengan adanya jaminan rendemen tujuh persen dan dihilangkannya profit sharing ini, pihaknya bertujuan meningkatkan kesejahteraan petani. Ia ingin petani dan pabrik bekerjasama dalam meningkatkan produktivitas. "Kami juga ingin memacu karyawan pabrik untuk meningkatkan kinerja," katanya.(jb1) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Berita Terkait :
- Pemkab Jember Relakan Hasil Tebu Lapter Masuk PTPN
- Proyek Rehab Jalan Rp.8,784 Milyar Dipantau Penegak Hukum
- Kader NU Harus Jadi Cagub
- Kelulusan UN SMA Situbondo Capai 100 Persen
- Jamin Rendemen Tebu Minimal 7 Persen, PG Semboro Dipuji
- Jabatan Dandim 0823 Situbondo Diserahterimakan
- Anggaran Dinas PNS Bengkak 44 Persen


Jember (jurnalbesuki.com) - Jaminan Rendemen tebu 7,3 persen yang dipatok Pabrik gula semboro dinilai tidak cukup memberikan penyelesaian bagi para petani tebu yang selama ini cenderung rugi. Jika pabrik gula yang menjadi jujukan pengolahan lanjutan dari tebu menjadi gula berkomitment memberikan jaminan kepada petani, semestinya angka rendemen tebu harus dipatok minimal 8 persen. 