Jurnal Besuki
Kamis, 23 Mei 2013
Jakarta Menjarah Air Petani
Kamis, 24 Mei 2012 - 05:34 wib
Sukabumi (jurnalbesuki.com) – Sebanyak 18.000 liter air bersih yang dikonsumsi Jakarta per detik diperkirakan meningkat 26,000 liter pada 2015. Solusinya? Sebuah jalan tol sepanjang 54 kilometer yang melintasi lahan padi untuk akses sumber daya air dari daerah perbukitan yang bersih ini.
 
Pemerintah provinsi Jakarta berharap ibukota menjadi etalase bagi upayanya mewujudkan Tujuan Pembangunan Milenium Perserikatan Bangsa-Bangsa, termasuk perihal pasokan air dan sanitasi.

Pemerintah, dalam bunyi kebijakannya, menjalin kemitraan pemerintah-swasta untuk membuat solusi. Karena partisipasi mereka, perusahaan air seperti PT PAM Jaya –yang memprediksi kenaikan kebutuhan air Jakarta meningkat 44 persen pada 2015– ingin aturan yang longgar mengenai proyek-proyek air.

Namun, konflik atas sumberdaya air meletup antara penduduk lokal di Sukabumi dan perusahaan air di satu sisi serta perusahaan air dan kontrak mengenai pasokan air ke Jakarta di sisi lain.

Truk pengangkut air murni pegunungan mungkin akan memuaskan dahaga 10 juta warga Jakarta tapi sekaligus merampas sumber air untuk lahan padi seluas 2.700 km persegi yang harus dikorbankan dalam proyek ini, atau masa depan 2,7 juta penduduk kabupaten Sukabumi.

Terletak pada ketinggian 600 meter, dengan suhu rata-rata 25 derajat Celsius, Sukabumi disukai pemerintah kolonial Belanda untuk menempatkan lembaga-lembaga penting. Kini Sukabumi menawarkan kegiatan ekowisata seperti arung jeram dan satwa liar.

“Suhu menjadi panas sekira 36-38 derajat Celsius setelah proyek jalan itu selesai, dan hal ini mempengaruhi tanaman,” ujar Resit Rozer, naturalis dan direktur Pusat Penangkaran Satwa Cikanaga berbasis di Sukabumi.

Peningkatan suhu tentu berpengaruh pada pertanian yang, selama berabad-abad, menjadi mata pencaharian bagi perempuan Sukabumi, yang bertanggung-jawab atas 80 persen pengolahan padi dan pasokan pasar-pasar tradisional yang menjual buah-buahan dan sayuran yang melimpah di kabupaten ini.

Lukmanul Hakim, kepala Seksi Pengendali Pencemaran Lingkungan pada Kantor Lingkungan Hidup Sukabumi, menegaskan suhu meningkat pesat. “Suhu 33 derajat Celsius kini dianggap normal, padahal lima tahun lalu rata-rata 24-27 derajat Celsius,” katanya.

“Setelah jalan tol selesai dikerjakan, volume lalulintas akan meningkat drastis dan menurunkan suhu udara,” dia menambahkan.

Ijay, penduduk Sukabumi, bilang kampungnya tak lagi tempat yang sejuk dan bersih seperti dulu. “Sekarang lebih panas dan banyak polusi.”

Di daerah pesisir Sukabumi, para nelayan mengeluhkan hancurnya persediaan ikan air tawar karena gelombang air laut.

Menurut laporan keempat Panel Antarpemerintah mengenai Perubahan Iklim PBB, keterlambatan musim hujan di Indonesia dan peningkatan suhu udara di atas 2,5 derajat Celsius dapat menurunkan hasil panen padi terus-menerus, sementara peningkatan permukaan air laut akan menurunkan produksi perikanan.

“Dengan garis pantai sepanjang 80.000 km, 17.000 pulau, dan 240 juta penduduk, dampak kenaikan permukaan air laut menjadi perhatian utama bagi Indonesia,” tulis laporan PBB itu.

“Peningkatan lagi atas suhu di Sukabumi niscaya akan menghancurkan kegiatan ekonomi berbasis pertanian lokal,” kata Resit. “Tentu saja ini memungkinkan berbagai perusahaan yang sudah bersiap mengeksploitasi sumber daya alam Sukabumi untuk masuk,” tambahnya.

Bukan rahasia lagi bahwa pengembang jalan tol itu adalah Bakrie Group yang kegiatan  pengeboran gasnya bertanggung-jawab atas semburan lumpur di Sidoarjo, Jawa Timur, dan membuat ribuan kelurga kehilangan rumah dan lahan pertanian.

Namun, Bakrie membanggakan komitmennya terhadap lingkungan. “Kami selalu berpegang pada konsep hijau,” kara Harya Mitra Hidayat, kepala proyek jalan tol itu, kepad IPS.

Harya secara jujur mengatakan perusahaannya mencari peluang lain. “Kami tak hanya membangun jalan tol. Kami juga membangun infrastruktur bisnis untuk mendapatkan nilai tambah.”

Ekstrasi air di Sukabumi kini berjalan lancar, termasuk oleh perusahaan air minum milik negara, PDAM, yang menguasai bagian terbesar di dekat Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

“PDAM melayani dua kota, Sukabumi dan Bogor, yang penduduknya terus bertambah,” kata Agus Mulyana, seorang eksekutif muda yang menjadi relawan Rimbawan Muda Indonesia (RMI), kepada IPS.

Setidaknya ada 200 perusahaan, kebanyakan tak terdaftar, yang terlibat pengolahan air di taman nasional itu, yang membentang lebih dari 100.000 hektar dan menyimpan cadangan emas, galena, dan kayu.

Peraturan baru, sejalan dengan konsep kemitraan pemerintah-swasta, memungkinkan perusahaan swasta mengekspolitasi sumber daya air dan membuat jalan tol di atas lahan taman nasional yang dianggap penting demi kehidupan area di sekitarnya termasuk Jakarta.

Pengeboran air berlebihan menyebabkan aliran air di Sungai Cisadane turun dari 70 kubik meter per detik menjadi 35 kubik meter per detik selama 15 tahun terakhir, menurut RMI.

Beberapa spesies ikan dan udang endemik di sungai itu berkurang atau lenyap sama sekali. “Gizi keluarga sangat terpengaruh karena hal ini,” ujar Ratna Sari, ibu rumahtangga di desa Wates Jaya, kepada IPS.

RMI mendorong anak-anak muda ikut membantu menjaga sungai dengan menanam tanaman keras seperti sengon dan jabon, dan bergabung dalam program memelihara kesehatan sungai.

“Namun, inisiatif seperti ini tak sesuai bagi perusahaan,” kata Ila Mardhatillah, aktivis RMI untuk kampanye “Sungai Kita, Hidup Kita” yang melibatkan Burma, Thailand, Filipina, Kamboja dan Laos.

Dengan dukungan pemerintah, perusahaan-perusahaan besar kini mengepung daerah untuk mengeksplotasi airnya, mineral, turisme, dan pertanian potensial, ujar Nani Saptistani, aktivis lokal RMI kepada IPS.

Dia menunjuk kebijakan pemerintah yang menuntut petani beralih ke benih hibrida sesuai kampanye nasional guna menaikkan produksi padi dan menciptakan surplus 10 juta ton pada 2014.

“Hasil padi hibrida sebesar 11 ton per hektar, lebih tinggi dari varietas padi lokal yang menghasilkan 4,5 ton per hektar,” kata Menteri Pertanian Suswono.

Namun benih hibrida menghadirkan masalah bagi petani padi Sukabumi, yang kini memproduksi 276.800 ton gabah per tahun dengan surplus 135.000 ton, menurut data kantor pertanian setempat.

“Padi hibrida tumbuh lebih cepat, tapi petani butuh membeli bibit dan juga memakai pupuk dan pestisida lebih banyak yang mencemari air dan lingkungan di Sukabumi,” kata Nani.

“Bila eksploitasi air terus berlanjut seperti saat ini, pertanian akan gagal dan pada titik kecil ini kehidupan harmonis kita dengana alam akan hilang selamanya dan Sukabumi berubah menjadi neraka,” katanya, memprediksi.*


Translated by Fahri Salam
Edited by Budi Setiyono
Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS Asia-Pasifik

 
 
< Sebelumnya   Berikutnya >