| Minta Hujan, Warga Asembagus Gelar Ritual Hodo |
| Sabtu, 04 Desember 2010 - 13:31 wib | |
Situbondo (jurnalbesuki.com) - Kemarau panjang yang terjadi dalam setahun terakhir ini disejumlah wilayah di Kabupaten Situbondo. Kondisi tersebut membuat resah warga Dusun Paryopo, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus. Bahkan, akibat terjadi kemarau panjang tersebut mereka mengaku gagal panen.Menariknya, ratusan warga pedalaman Desa Bantal, Kecamatan Asembagus ini mempunyai tradisi yang unik untuk meminta hujan, yang menggelar ritual upacara Hodo diatas puncak perbukitan setempat, selanjutnya mereka memanjatkan do’a di sungai dusun setempat. Uniknya warga yang akan mengikuti upacara ritual untuk meminta hujan, mereka tidak diperbolehkan memakai pakaian yang bagus. Mereka hanya diperbolehkan mengenakan pakaian yang kondisinya sudah jelek, atau pakaian yang dipergunakan setiap harinya. Diperoleh keterangan, tradisi Hodo itu merupakan kegiatan ritual yang sudah berlangsung secara turun temurun dari nenek moyang warga Dusun Paryopo, namun, selama ritual berlangsung, sejumlah warga memanjatkan doa-doa khas yang diiringi dengan bunyi-bunyian musik tradisional yang juga disebut musik tradisional Hodo. Usai menggelar ritual Hodo di puncak perbukitan setempat, sejumlah warga langsung n melanjutkan ritual ini ke sungai, yang diketahui merupakan satu-satunya sumber mata air bagi warga setempat. Sedangkan ritual Hodo itu sendiri dipimpin langsung sesepuh desa, dengan menggunakan sebuah tongkat yang diyakini warga milik seorang raja Damar Wulan, yakni salah seorang raja dari kerajaan Blambangan Banyuwangi. Selain itu, ritual Hodo ini juga dilengkapi dengan aneka ragam sesajen dari hasil bumi warga, serta sejumlah makan-makanan lain. “Bagi masyarakat dusun Paroyopo, ritual Hodo ini bukan hanya ritual untuk minta hujan, namun juga merupakan meminta keselamatan dan keberkahan bagi warga sekitar. Konon ditempat ini pernah terjadi banjir besar, meski sungai yang dijadikan tempat ritual saat ini kondisinya sedang mongering,” terang Abdurrahman (34), salah seorang setempat. Sementara itu, salah seorang sesepuh warga setempat mengakatan, kalau tradisi Hodo itu merupakan kegiatan rutin setiap tahun, bagi warga yang tinggal disekitar perbukitan masali, “Ritual Hodo ini sudah menjadi kegiatan rutin setiap tahunnya. Selain meneruskan tradisi nenek moyang, ritual ini juga diyakini bisa membuat subur hasil tanaman warga sekitar, yang rata-rata berprofesi sebagai petani,” ujar Nur Hasan (75).(ari/Jb1) |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|
Berita Terkait :
- Ban Meletus, Xenia Nyeruduk Rumah Warga
- Heboh, Warga Tangkap Babi Ngepet
- Nelayan Panarukan Gelar Ritual Untuk Korban Laut
- Warga Lumajang Terancam Lahar Semeru
- MUsim HUjan, Lokasi Piket Nol Rawan
- Oknum Perangkat Desa Berulah, Warga Gruduk Dewan
- Belum Dievakuasi, Kapal Tanker MT Aegas Jadi Tontonan Warga


Situbondo (jurnalbesuki.com) - Kemarau panjang yang terjadi dalam setahun terakhir ini disejumlah wilayah di Kabupaten Situbondo. Kondisi tersebut membuat resah warga Dusun Paryopo, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus. Bahkan, akibat terjadi kemarau panjang tersebut mereka mengaku gagal panen.