Jurnal Besuki
Rabu, 19 Juni 2013
Minta Hujan, Warga Asembagus Gelar Ritual Hodo
Sabtu, 04 Desember 2010 - 13:31 wib
ImageSitubondo (jurnalbesuki.com) - Kemarau panjang yang terjadi  dalam  setahun terakhir ini disejumlah wilayah di Kabupaten Situbondo. Kondisi tersebut    membuat resah  warga Dusun Paryopo, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus. Bahkan, akibat terjadi kemarau panjang tersebut  mereka  mengaku  gagal panen.
 
Menariknya, ratusan warga pedalaman  Desa Bantal, Kecamatan Asembagus ini  mempunyai tradisi yang  unik untuk  meminta hujan, yang menggelar ritual upacara Hodo diatas puncak perbukitan setempat, selanjutnya mereka memanjatkan do’a di sungai dusun setempat.

Uniknya  warga yang akan mengikuti upacara ritual untuk meminta hujan, mereka tidak diperbolehkan  memakai pakaian yang  bagus. Mereka hanya diperbolehkan mengenakan pakaian  yang kondisinya sudah  jelek, atau pakaian yang dipergunakan  setiap harinya.

Diperoleh keterangan, tradisi  Hodo itu  merupakan kegiatan ritual yang sudah berlangsung secara turun temurun dari nenek moyang warga Dusun Paryopo, namun,  selama ritual berlangsung, sejumlah  warga memanjatkan doa-doa khas  yang diiringi dengan bunyi-bunyian  musik tradisional yang juga disebut musik tradisional Hodo.

Usai  menggelar ritual Hodo di puncak perbukitan setempat, sejumlah warga langsung n melanjutkan ritual ini ke sungai,  yang diketahui merupakan satu-satunya sumber mata air bagi warga setempat. Sedangkan ritual Hodo itu sendiri   dipimpin langsung  sesepuh desa, dengan menggunakan sebuah tongkat yang diyakini warga milik seorang raja Damar Wulan, yakni salah seorang raja dari kerajaan Blambangan Banyuwangi.

Selain itu,  ritual Hodo  ini juga dilengkapi dengan  aneka ragam sesajen dari  hasil bumi warga, serta sejumlah makan-makanan lain. “Bagi masyarakat dusun Paroyopo, ritual Hodo ini bukan hanya ritual untuk minta hujan, namun juga merupakan meminta keselamatan dan keberkahan bagi warga sekitar.  Konon  ditempat ini pernah terjadi banjir besar,  meski sungai yang dijadikan tempat ritual saat  ini kondisinya  sedang mongering,” terang Abdurrahman (34), salah seorang setempat.

Sementara itu, salah seorang sesepuh warga setempat mengakatan, kalau tradisi  Hodo itu merupakan kegiatan rutin setiap tahun, bagi   warga yang tinggal disekitar  perbukitan  masali, “Ritual Hodo ini sudah menjadi kegiatan  rutin setiap tahunnya. Selain  meneruskan tradisi nenek moyang,  ritual ini juga diyakini bisa membuat subur hasil tanaman warga sekitar,  yang rata-rata berprofesi sebagai petani,” ujar Nur Hasan (75).(ari/Jb1)

 
< Sebelumnya   Berikutnya >